Hutan
Lindung Wehea terletak di Kecamatan Muara Wahau, Kabupaten Kutai Timur, 450 km
dari Kota Samarinda, ibukota Kalimantan Timur, 275 km dari Sengata ibukota
Kabupaten Kutai Timur dengan luas kawasan ± 38.000 ha. Secara ekologis,
Hutan Lindung Wehea menjadi
penyangga tiga sub DAS masing-masing Sungai Sub-Das Seleq, Sungai Sub-DAS
Melinyiu dan Sungai Sub-DAS Sekung. Tiga Sub Sungai itu yang bermuara sungai
Mahakam," Hutan itu sebelumnya adalah eks-hutan ekploitasi perusahaan HPH
(hak pengusahaan hutan) PT Gruti III. Pada 1995 digabung dengan PT Inhutani II
menjadi PT Loka Dwihutani. Tahun 2003, hutan dievaluasi Pemprov Kaltim dan
kondisinya dinilai masih baik.
(Suku Dayak Wehea)
Wehea kini
berpopulasi sekitar 2.214 jiwa dan tersebar di 6 (enam) desa, dan desa tertua
hingga kini dapat dijumpai di Desa Nehas Liah Bing, Muara Wahau. Hamparan hutan
dan jalan, panas terik matahari berganti hujan, perjalana yang memakan waktu
tidak terasa karena pemandangan yang
nyaris belum terjamah dengan
pemandangan yang nyaris belum terjamah dengan kemodernsasian jaman sekarang.
Suku Dayak Wehea adalh penduduk asli disini. Sejarah mengatakan bahwa suku
Dayah Wehea ini berasal dari campuran penduduk setempat (Yunan) dengan Cina
Selatan yang berimigrasi secara bergelombang dan berlangsung kira-kira 3.000 –
1.500 sebelum masehi Hutan Wehea seluas 38.000 ha merupakan kawasan hujan
tropis, dataran rendah yang sangat tinggi. Dengan tingginya potensi alam Wehea
maka sejak akhir 2004 masyarakan Wehea menjadikan kawasan Wehea sebagai kawasan
perlindungan habitat orang utan yang dilindungi oleh adat Wehea dan untuk
mengimplementasikannya, melalui hasil musyawarah adat, kepala adat Wehea
membuat aturan adat dan memonitoring kawasan Wehea dari kegiatan illegal dan
perburuan satwa. Di desa ini sering diadakan berbagai kegiatan wisata budaya,
diantaranya ; panen raya, upacara adat dan bukan hanya itu yang kita dapat
nikmati tetapi kekayaan alam seperti pegunungan Karst, beningnya air sungai
Melenyiu, hamparan alang-alang, hutan yang membentang luas dan juga
keanekaragaman vegetasi dan keanekaragaman fauna yang ada di hutan lindung
Wehea.
Menurut Didi
Suryadi (Kepala BLH Kutai Timur), tingkat kelerengan Hutan Lindung Wehea
mencapai 68 persen, yang berarti masuk kategori sangat curam. Pemerintah
Kabupaten (Pemkab) Kutai Timur sejak 2003 sampai 2006 bekerja sama dengan
lembaga swadaya masyarakat The Nature Conservancy (TNC) mengadakan penelitian
kekayaan hutan Wehea.
Hutan
Lindung Wehea terletak di Kecamatan Muara Wahau, Kabupaten Kutai Timur, 450 km
dari Kota Samarinda, ibukota Kalimantan Timur, 275 km dari Sengata ibukota
Kabupaten Kutai Timur dengan luas kawasan ± 38.000 ha,
Dari
penelitian TNC, di Wehea ada 12 hewan pengerat, 9 jenis primata, 19 jenis
mamalia, 114 jenis burung, dan 59 jenis pohon bernilai. Masih ada 760 ekor
lebih orangutan. Kekayaan flora yang terungkap baru 12.000 hektar. Saat ini
dilakukan penelitian oleh peneliti dari Indonesia, Jepang, dan Amerika Serikat.Berbeda
dengan kawasan konservasi lingkungan yang lain di Kaltim, maka kelestarian
kawasan hutan lindung itu karena keperdulian tinggi Dayak Wehea dalam menjaga
lingkungannya. Warga Dayak Wehea melalui lembaga adatnya telah mengeluarkan
berbagai keputusan penting di dalam menjaga kelestarian kawasan itu. Misalnya
membentuk "Kelompok Pelindung Hutan" terdiri dari puluhan warga Dayak
Wehea yang bertugas mengamankan kawasan itu dari berbagai kerusakan baik dari
akfitas illegal logging maupun bencana kebakaran hutan dan lahan.

Kearifan
lokal masyarakat dalam menjaga kelestarian itu ternyata mendapat sorotan
internasional, terbukti merebut juara III (tiga) dalam penghargaan
"Schooner Prize Award 2008" di Vancouver, Kanada. Penghargaan
berhadiah 1.000 dollar Amerika Serikat itu sebagai bentuk pengakuan bahwa model
pengelolaan konservasi hutan Wehea dinilai sangat adaptif dan sesuai
perkembangan zaman sehingga menduduki peringkat hutan terbaik ketiga di dunia. Presiden
RI Susilo Bambang Yudhoyono juga memberikan penghargaan bagi kearifan lokal
warga Dayak Wehea itu pada 5 Juni 2009 dengan menganugerahkan trofi Kalpataru. Trofi
itu kini tersimpan rapi pada salah satu ruang di rumah Kepala Adat Wehea
merupakan bentuk penghargaan pemerintah pada 2009 kepada warga setempat yang
diwaliki Ledjie Taq.
Menuju
kawasan tersebut dapat ditempuh dengan melewati jalan darat poros
Samarinda-Berau melalui dua jalur alternatif. Alternatif I dapat ditempuh dari
Tanjung Redeb Kabupaten Berau selama kurang lebih 5 Jam sepanjang 225 kilometer
yang selanjutnya diteruskan dengan melewati jalan HPH PT. Gunung Gajah di
Kecamatan Wahau. Alternatif ke II dapat ditempuh dari Samarinda Melewati Jalan
Poros Samarinda-Berau sepanjang kurang lebih 327 kilometer dengan waktu tempuh
selama 9 jam menuju jalan Desa Miau Baru yang selanjutnya dilanjutkan melalui
jalan HPH PT. Gunung Gajah di Kecamatan Muara Wahau Kabupaten Kutai Timur.
Keunggulan melalui jalan alternatif I selain waktu dan jaraknya
Berdasarkan
data penelitian terdapat 206 jenis burung, 49 jenis mamalia (beberapa
diantaranya berstatus dilindungi yakni ; orang utan) dan 59 jenis kekayaan
vegetasi. Disamping itu pula air terjun adan didaerah Span (Stasiun Penelitian)
dan lokasi jalan menuju stasiun. Daya tarik utama air terjun ini adalah adanya
kelelawar yang berterbangan disekitar air terjun tersebut. Dijalur hutan
lindung, kita dapat melihat pohon ulin besar dengan diameter 2 m yang berusia
ratusan tahun. Pengunjung dapat menggunakan jasa pemandu wisata lokal, yang
dinamakan “Petque Meheuy” (polisi hutan) dari warga Dayak Wehea.
Dan tidak
kalah menarik juga masyrakat di Wehea masih menjunjung tinggi adat istiadat
suku Wehea itu sendiri. Sehingga masyarkat setempat masih melakukan pesta panen
dalam musim tertentu setiap tahunnya, tepatnya pada bulan Maret – april.
Kegiatan ini diikuti oleh 5 desa sekitarnya. Selama tinggal di hutan kita bias
mengetahui waktu dengan mengenal bunyi-bunyi binatang yang berbunyi pada waktu
tertentu, antara lain : “uwa-uwa” akan selalu berbunyi pada saat jam 06.00 wita
dan 08.00 wita pagi dan apalagi “gareng” (sejenis serangga hutan) berbunyi
menandakan jam 18.00 wita. Fasilitas yang dapat dihunakan oleh pengunjung
adalah menara pemantau, tempat peristirahatan, penginapan, air bersih, penerang
(generator), dan alat komunikasi.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar